Tanggal Nuzulul Qur’an atau malam turunnya Al-Qur’an menjadi momen penting dalam kalender keislaman. Tapi beda lembaga beda cara menentukan. Ada yang pakai perhitungan astronomi, ada yang berpatokan pada riwayat historis dan tradisi.
Pemerintah Indonesia dan Muhammadiyah punya pendekatan berbeda dalam menentukan kapan malam Nuzulul Qur’an dirayakan. Meski sama-sama merujuk pada penurunan wahyu suci, hasil akhirnya bisa saja berbeda karena metode hitungan yang digunakan.
Perbedaan Tanggal Nuzulul Qur’an Menurut Pemerintah dan Muhammadiyah
Pemerintah biasanya menetapkan tanggal berdasarkan sidang isbat yang melibatkan Menteri Agama, tokoh ulama, dan ahli falak. Sementara Muhammadiyah menggunakan metode hisab (perhitungan) secara mandiri.
Tahun 2026, perbedaan ini bakal terlihat lagi. Masing-masing pihak akan mengumumkan tanggal yang berbeda, tergantung dari hasil perhitungan dan observasi.
1. Tanggal Nuzulul Qur’an Versi Pemerintah
Pemerintah RI melalui Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat menjelang bulan Rajab. Sidang ini menentukan kapan malam Nuzulul Qur’an jatuh berdasarkan hasil observasi dan perhitungan.
Dalam sidang isbat, hadir para pakar falak, tokoh ormas keislaman, dan pejabat negara. Mereka akan memastikan secara bersama apakah hilal Rajab sudah terlihat atau belum.
| Tahun | Tanggal Nuzulul Qur’an (Versi Pemerintah) |
|---|---|
| 2026 | Diputuskan saat sidang isbat (perkiraan awal Rajab 1447 H) |
Tanggal pasti akan dirilis menjelang awal Rajab 1447 H, sekitar Februari atau Maret 2026.
2. Tanggal Nuzulul Qur’an Versi Muhammadiyah
Muhammadiyah menggunakan metode hisab secara mandiri untuk menentukan awal bulan Rajab. Hasil perhitungan ini kemudian diumumkan sebagai acuan umat Muhammadiyah dalam merayakan Nuzulul Qur’an.
Lembaga ini punya lembaga khusus yang menangani penanggalan hijriah, yakni Lembaga Falak dan Kalender (LAFKAL). LAFKAL mempublikasikan jadwal secara transparan melalui situs resmi.
| Tahun | Tanggal Nuzulul Qur’an (Versi Muhammadiyah) |
|---|---|
| 2026 | Dipublikasikan sebelum awal Rajab (perhitungan hisab) |
Meski belum dirilis, perkiraan awal Rajab menurut Muhammadiyah bisa dicek dari kalender resmi yang dikeluarkan lembaga tersebut.
Mengapa Ada Perbedaan Penanggalan?
Perbedaan ini bukan soal benar atau salah. Melainkan soal pendekatan. Pemerintah menggabungkan hisab dan rukyat (observasi), sementara Muhammadiyah lebih mengandalkan hisab.
1. Metode Penanggalan Umat Islam
Umat Islam menggunakan sistem penanggalan berbasis bulan. Awal bulan ditentukan oleh kemunculan hilal setelah bulan baru.
Ada dua metode utama:
- Rukyatul hilal – Observasi langsung bulan sabit
- Hisab – Perhitungan astronomi berdasarkan posisi matahari, bulan, dan bumi
2. Pemerintah Menggunakan Rukyat dan Hisab
Sidang isbat di Kementerian Agama menggabungkan dua metode ini. Jika rukyat berhasil, maka tanggal langsung disahkan. Jika tidak, hasil hisab yang dijadikan acuan.
Pendekatan ini dianggap lebih inklusif karena melibatkan banyak pihak.
3. Muhammadiyah Mengutamakan Hisab
Muhammadiyah lebih memilih metode hisab karena dinilai lebih akurat dan bisa diprediksi jauh-jauh hari. Ini juga konsisten dengan pendekatan modern yang didukung data ilmiah.
Kapan Malam Nuzulul Qur’an Dirayakan?
Malam Nuzulul Qur’an diyakini sebagai malam pertama kali Al-Qur’an diturunkan. Meski sebagian besar ayatnya turun secara bertahap, malam inilah yang menjadi permulaan.
Perayaan biasanya dilakukan pada malam 17 Rajab. Namun karena sistem penanggalan yang berbeda, tanggal kalender masehi bisa berbeda tergantung lembaga yang menetapkan.
Perbandingan Tanggal Nuzulul Qur’an 2026
Berikut perkiraan perbandingan tanggal Nuzulul Qur’an menurut dua lembaga utama di Indonesia.
| Lembaga | Metode Penetapan | Tanggal Perkiraan |
|---|---|---|
| Pemerintah RI | Hisab + Rukyat | Menunggu sidang isbat |
| Muhammadiyah | Hisab mandiri | Awal Rajab 1447 H (perhitungan LAFKAL) |
Tanggal ini biasanya jatuh di bulan Februari atau Maret 2026, tergantung dari hasil konversi kalender hijriah ke masehi.
Apa Bedanya dengan Isra Mi’raj?
Banyak yang bingung membedakan Nuzulul Qur’an dengan Isra Mi’raj. Padahal keduanya adalah dua peristiwa berbeda yang terjadi di malam yang sama menurut sebagian riwayat.
Namun secara historis:
- Isra Mi’raj: Perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke langit.
- Nuzulul Qur’an: Penurunan Al-Qur’an secara keseluruhan ke Baitul Ma’mur.
Perbedaan ini penting untuk memahami konteks makna dan perayaan masing-masing.
Tips Menyambut Malam Nuzulul Qur’an
Meski tidak wajib dirayakan secara khusus dalam ajaran Islam, banyak umat memanfaatkan malam ini untuk beribadah dan memperdalam koneksi dengan Al-Qur’an.
1. Membaca Al-Qur’an
Malam Nuzulul Qur’an adalah momen baik untuk membaca dan merenungkan makna Al-Qur’an. Bisa dengan membaca surat-surat pendek atau tafsir.
2. Mengikuti Pengajian
Banyak masjid dan lembaga keislaman mengadakan pengajian khusus malam itu. Umat diajak untuk merayakan dengan cara yang positif dan bermakna.
3. Berdoa dan Meningkatkan Ibadah
Selain membaca Al-Qur’an, malam ini juga baik untuk berdoa memohon petunjuk dan rahmat Allah SWT.
Disclaimer
Tanggal dan informasi penanggalan bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung hasil sidang isbat atau pengumuman resmi dari lembaga terkait menjelang awal Rajab 1447 H. Data yang disajikan berdasarkan perkiraan hisab dan praktik sebelumnya.