Tanggal 1 Syawal 2026, yang menandai Hari Raya Idul Fitri, menjadi sorotan karena potensi perbedaan penetapan antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Kedua organisasi besar ini memiliki metode tersendiri dalam menentukan awal bulan Ramadan dan Syawal, yang pada akhirnya memengaruhi kapan umat Muslim merayakan Lebaran. Perbedaan ini bukan hal baru, tetapi tetap menjadi pembahasan menarik setiap tahunnya.
NU dan Muhammadiyah memang punya pendekatan berbeda dalam menetapkan awal bulan hijriah. NU cenderung mengandalkan rukyatul hilal atau pengamatan bulan secara langsung, sementara Muhammadiyah lebih mengedepankan perhitungan ilmiah (hisab). Kombinasi dari kedua metode ini sering kali menghasilkan perbedaan waktu, meskipun tidak selalu terjadi setiap tahun.
Penentuan Tanggal 1 Syawal 2026
Tahun 2026, perbedaan ini kembali terlihat. Berdasarkan hasil hisab astronomi, 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari Minggu, 19 Maret 2026. Namun, karena NU mengutamakan rukyat, maka penetapan resmi bisa berbeda tergantung pada apakah hilal berhasil diamati secara langsung atau tidak. Jika tidak terlihat karena faktor cuaca atau teknis lainnya, NU biasanya mengikuti hasil hisab, sehingga Lebaran bisa bersamaan.
1. Hasil Hisab Astronomi
Menurut kalkulasi astronomi, conjunction (ijtima’) terjadi pada Sabtu, 18 Maret 2026, sekitar pukul 18.49 WIB. Artinya, bulan baru sudah lahir menjelang matahari terbenam. Dengan begitu, secara teknis, 1 Syawal seharusnya dimulai pada Minggu, 19 Maret 2026. Ini adalah hasil yang digunakan oleh Muhammadiyah dan sejumlah lembaga hisab lainnya.
2. Potensi Rukyat oleh NU
NU, yang selama ini menggunakan pendekatan gabungan antara rukyat dan hisab, akan melakukan sidang isbat untuk menentukan apakah bulan Syawal telah masuk. Jika pada malam Minggu (18/3) bulan sabit berhasil terlihat secara langsung di sejumlah daerah di Indonesia, maka Lebaran akan dirayakan pada hari Minggu, 19 Maret 2026. Namun jika tidak terlihat, NU biasanya tetap mengikuti hasil hisab.
3. Jadwal Sidang Isbat NU
Sidang isbat biasanya dilakukan sehari setelah ijtima’, yaitu pada hari Minggu, 19 Maret 2026. Dalam pertemuan ini, sejumlah tokoh ulama dan ahli astronomi akan membahas hasil pengamatan dari berbagai daerah. Hasil sidang ini akan menjadi dasar penetapan secara resmi oleh pemerintah.
Perbandingan Penetapan Lebaran NU vs Muhammadiyah
Berikut adalah ringkasan perbandingan antara pendekatan NU dan Muhammadiyah dalam menetapkan 1 Syawal 2026:
| Metode | Tanggal 1 Syawal | Dasar Penetapan |
|---|---|---|
| NU | Minggu, 19 Maret 2026 | Rukyat + Hisab |
| Muhammadiyah | Minggu, 19 Maret 2026 | Hisab Astronomi |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa untuk tahun 2026, kemungkinan besar tidak akan terjadi perbedaan tanggal Lebaran antara NU dan Muhammadiyah. Keduanya sama-sama menetapkan 19 Maret 2026 sebagai 1 Syawal 1447 H.
Faktor yang Mempengaruhi Penetapan
Penetapan awal bulan hijriah tidak hanya bergantung pada metode yang digunakan, tetapi juga pada beberapa faktor lain yang bisa memengaruhi hasil akhir.
1. Kondisi Cuaca Saat Rukyat
Salah satu faktor utama yang memengaruhi hasil rukyat adalah kondisi cuaca. Jika mendung atau hujan menghalangi pandangan ke langit, maka bulan sabit bisa tidak terlihat meskipun secara astronomi sudah lahir. Ini menjadi alasan mengapa NU tetap mempertimbangkan hisab sebagai cadangan.
2. Lokasi Pengamatan
Wilayah Indonesia yang luas membuat pengamatan hilal bisa berbeda antardaerah. Di beberapa tempat, bulan mungkin terlihat jelas, sementara di daerah lain tidak terlihat sama sekali. Oleh karena itu, sidang isbat biasanya mempertimbangkan laporan dari berbagai daerah.
3. Kriteria Ketinggian Hilal
Ada kriteria teknis tertentu yang digunakan untuk menilai apakah hilal sudah bisa terlihat atau belum. Misalnya, ketinggian hilal di atas ufuk dan selisih waktu antara matahari terbenam dan hilal. Semakin tinggi dan semakin lama hilal terlihat setelah matahari terbenam, semakin besar kemungkinan pengamatan berhasil.
Kemungkinan Skenario Akhir
Meskipun untuk tahun ini NU dan Muhammadiyah tampaknya sejalan, tetap saja ada beberapa skenario yang bisa terjadi tergantung hasil sidang isbat.
1. Lebaran Bersama
Jika sidang isbat memutuskan bahwa bulan sabit terlihat dan hasil hisab mendukung, maka Lebaran akan dirayakan serentak pada Minggu, 19 Maret 2026. Ini akan mempermudah koordinasi nasional, terutama dalam hal cuti bersama dan kebijakan pemerintah.
2. Penundaan ke Hari Selanjutnya
Jika tidak ada bukti rukyat yang kuat dan sidang isbat memutuskan untuk tidak menetapkan 1 Syawal, maka penanggalan akan bergeser ke hari berikutnya. Dalam kasus ini, Lebaran akan dirayakan pada Senin, 20 Maret 2026. Meski jarang terjadi, skenario ini tetap mungkin terjadi.
Kesimpulan
Penetapan 1 Syawal 2026 menjadi perhatian karena potensi perbedaan antara NU dan Muhammadiyah. Namun berdasarkan data astronomi dan perkiraan hasil sidang isbat, besar kemungkinan Lebaran akan jatuh pada Minggu, 19 Maret 2026. Baik NU maupun Muhammadiyah tampaknya akan menggunakan dasar yang sama, sehingga perayaan Idul Fitri bisa berjalan serentak.
Disclaimer: Informasi ini bersifat prediktif dan dapat berubah tergantung hasil sidang isbat resmi yang akan diumumkan oleh pemerintah menjelang Idul Fitri 1447 H. Data hisab dan rukyat bisa berbeda tergantung lokasi dan kondisi cuaca.