Siapa Agus Mustofa? Mengapa Namanya Kembali Jadi Sorotan Publik?

Agus Mustofa meninggal pada 29 Maret 2026, di usia 63 tahun. Lima jam sebelum ajal menjemput, ia mencoba menulis pesan terakhirnya sendiri. Dengan suara terakhir yang masih sempat terucap, ia mendiktekan kata-kata yang menyatakan dirinya telah meninggal dunia. Putrinya, Citra P. Dini, yang saat itu sedang salat tahajud di dekatnya, sempat menolak menuliskannya. Namun akhirnya, demi menghibur sang ayah yang tampak sedih, ia menuliskan pesan itu. Hanya satu hal yang tidak ia tulis: tanggal kematian. Karena ia tak ingin ayahnya benar-benar meninggal di tanggal itu.

Kisah ini bukan hanya soal kematian yang penuh makna, tapi juga tentang sosok yang hidupnya diwarnai oleh dua bidang ilmu yang jauh berbeda: nuklir dan tasawuf. Agus Mustofa adalah seorang alumnus Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada (UGM), seorang wartawan yang sempat menjadi bagian dari tim Dahlan Iskan. Namun, ia lebih dikenal sebagai penulis dan penceramah agama yang sangat produktif dengan lebih dari 60 buku terbit.

Perjalanan Hidup Agus Mustofa

Agus lahir dari keluarga yang unik. Ayahnya, Syekh Djapri Karim, adalah mursyid dari tarekat Nahdlatul Ulama (NU) dan tarekat Nahsabandiah yang kemudian dikenal sebagai Nuhsobandiah. Ibu Agus berasal dari keturunan Aceh dan Jawa. Dari keluarga inilah ia mewarisi kegemaran terhadap ilmu agama dan tasawuf, meskipun ia memilih jalur pendidikan teknik nuklir.

Baca Juga:  Dokter Anak Pekanbaru Terbaik dan Terpercaya, Ini Dia Rekomendasinya!

1. Awal Karier sebagai Wartawan

Agus Mustofa mulai dikenal saat menjadi wartawan di bawah bimbingan Dahlan Iskan. Ia adalah satu dari sedikit wartawan dengan latar belakang teknik nuklir. Ketika Prof B.J. Habibie akan mengisi seminar di Jerman, Agus terpilih sebagai satu dari sedikit wartawan yang mendampingi. Ini menunjukkan kemampuannya dalam memahami teknologi dan menyampaikannya secara jurnalistik.

2. Perjalanan Menuju Dunia Tasawuf

Setelah meninggalkan dunia wartawan, Agus mulai fokus pada penulisan buku-buku tentang tasawuf modern. Ia menulis lebih dari 60 buku yang membahas berbagai aspek spiritualitas dan tafsir Al-Quran dengan pendekatan kontemporer. Banyak di antaranya menimbulkan kontroversi karena pendekatannya yang tidak konvensional, termasuk pandangan bahwa Nabi Adam bukan manusia pertama di dunia.

Tafsir Ulul Albab: Karya Terakhir yang Tak Sempat Terbit

Salah satu karya terbesar Agus adalah Tafsir Ulul Albab, sebuah tafsir Al-Quran yang menggunakan pendekatan ilmiah dan modern. Ia percaya bahwa tafsir Al-Quran perlu disesuaikan dengan kebutuhan generasi milenial. Tiga jilid sudah selesai ditulis, dan jilid keempat bahkan sudah rampung, hanya belum sempat diterbitkan.

3. Inspirasi di Balik Tafsir Ulul Albab

Agus memulai proyek tafsir ini setelah merasa bahwa pendekatan tafsir klasik kurang relevan dengan zaman modern. Ia meneliti sejarah lahirnya tafsir-tafsir klasik, mulai dari Tafsir Al Kabir yang ditulis pada abad ke-8 hingga Tafsir Jalalain. Ia ingin menciptakan tafsir yang tidak hanya menjelaskan makna ayat, tapi juga menjawab persoalan zaman.

4. Perjalanan ke Timur Tengah

Untuk memperkuat legitimasi karyanya, Agus sempat pergi ke Mesir untuk mendalami ilmu agama di sana. Meski tidak lama, perjalanan ini menjadi bagian penting dalam proses penulisan Tafsir Ulul Albab-nya. Ia ingin memastikan bahwa pendekatannya tidak akan dikritik karena tidak pernah belajar langsung di Timur Tengah.

Baca Juga:  Gol Tunggal Pemain HAGL Bawa U23 Vietnam Menang Tipis di Laga Pembuka CFA Team China 2026!

Kehidupan Pribadi dan Keluarga

Agus menikahi Anna Ratnawati, seorang wanita non-Muslim yang dikenalnya saat sama-sama bersekolah di Malang. Mereka menikah di bawah saksikan A.R. Fachruddin, tokoh penting Muhammadiyah saat itu. Meski berbeda agama, Agus tidak pernah memaksa Anna untuk masuk Islam. Justru Anna-lah yang akhirnya memeluk Islam setelah menikah dan diajarkan mengaji oleh putrinya, Dina.

5. Keluarga yang Penuh Kasih

Agus dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan suka bergurau. Ia tidak pernah memaksa istrinya untuk bangun subuh, memahami bahwa sebagai ibu rumah tangga, Anna butuh istirahat. Ia juga tidak suka memvonis orang, sebuah sikap yang mungkin terbentuk dari pengaruh tasawuf yang ia geluti.

Penyakit dan Perjalanan Menuju Akhir Hayat

Agus mulai merasa tidak enak badan saat sedang dalam perjalanan dakwah. Awalnya ia mengira hanya flu biasa, tapi demam dan cegukan yang berkepanjangan akhirnya membawanya ke rumah sakit. Berbagai pemeriksaan dilakukan, tapi tidak ditemukan penyakitnya. Setelah tiga minggu dirawat, ia meminta pulang karena merasa bosan dan belum ditemukan diagnosis pasti.

Namun, tiga hari setelah pulang, demamnya kembali tinggi dan ia harus dirawat lagi. Hasil tes sumsum tulang akhirnya menunjukkan bahwa ia terkena kanker darah. Meski sudah siap menjalani kemoterapi, kondisi tubuhnya terus menurun. Ia tidak bisa makan, trombositnya menurun drastis, dan akhirnya, lima jam sebelum meninggal, ia menulis pesan kematian sendiri.

Warisan dan Kenangan

Agus Mustofa bukan hanya seorang penulis atau penceramah. Ia adalah sosok yang memadukan ilmu pengetahuan dan spiritualitas. Ia membuktikan bahwa sains dan agama tidak selalu bertolak belakang. Dengan lebih dari 60 buku yang ditulis dan karya tafsir yang belum sempat terbit, warisannya tetap hidup dalam ribuan pembaca yang terinspirasi.

Baca Juga:  Cara Mudah Klaim Asuransi Kesehatan Tanpa Ribet: Tips Ampuh dari Ahli!

Disclaimer

Artikel ini disusun berdasarkan catatan harian Dahlan Iskan yang ditulis pada 5 April 2026. Informasi yang disajikan bersifat reflektif dan bisa berubah seiring dengan perkembangan waktu atau penemuan informasi baru.

Tinggalkan komentar